I. Definisi:
Zakaria Al-Anshori (w. 929 H): "Tasawuf adalah ilmu yang bisa dipergunakan untuk mengetahui kondisi kesucian jiwa, kebersihan akhlak, membangun kebaikan lahir dan batin untuk mendapatkan kebahagiaan abadi" (Risalah Al-Qusyairiyyah dalam catatan kaki, hal. 7).
Ahmad Zaruq (846-899 H): "Tasawuf adalah ilmu yang dimaksudkan untuk memperbaiki hati, memurnikannya untuk Allah saja. Fiqih adalah ilmu untuk memperbaiki amal, menjaga keteraturan hidup, dan lahirkannya kearifan dengan tegaknya hokum. Ushul (ilmu tauhid) adalah ilmu yang membuktikan kebenaran premis dengan bukti-bukti, memperindah iman dengan yakin. Seperti kedokteran untuk menjaga kesehatan jasmani, dan nahwu untuk memperbaiki lisan, dan lain-lain" (Ahmad Zaruq, Qawaid At-Tasawuf, qaidah ke 13, hal. 6).
Imam Al-Junaid (w. 297 H): "Tasawuf adalah mengamalkan setiap akhlak terpuji dan meninggalkan semua akhlak yang tercela". Definisi lain dari Al-Junaid: "Tasawuf semuanya akhlak. Jika anda lebih berakhlak mulia berarti anda lebih bertasawuf" (Mustafa Al-Madani, An-Nusrah An-Nabawiyyah, hal. 22).
Abul Hasan As-Syadzili (w. 656 H): "Tasawuf adalah melatih diri untuk beribadah dan membuatnya kembali kepada hokum-hukum Allah" (Hamid Soqr, Nurut Tahqiq, hal. 93).
Ibnu Ajibah: "Tasawuf adalah ilmu yang bisa dipergunakan untuk mengetahui bagaimana perilaku yang bisa mengantarkan kepada Allah, mensucikan batin dari berbagai keburukan, menghiasinya dengan berbagai bentuk kebaikan. Permulaannya ilmu, pertengahannya amal, dan akhirnya anugerah" (Ahmad bin Ajibah Al-Hasani, Mi'raj At-Tasyawuf ila Haqoiq At-Tashawwuf", hal. 4).
Secara umum tasawuf adalah kesucian hati dari kotoran-kotoran materi. Bangunannya ajeg dalam bentuk keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Karena itu seorang sufi adalah orang yang hatinya bersih menghadap Allah. Muamalahnya murni karena Allah. Maka ia mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt.
II. Derivasi istilah tasawuf:
1. "Dari as-shufah (الصوف) (kain bulu/wol). Karena seorang sufi bersama Allah seperti kain yang dilepas. Ia menyerahkan diri semata-mata kepada Allah" (Iqodzul Humam fi Syahril Hikam, Ibnu Ajibah, hal. 6). Atau kain bulu yang kasar, untuk menunjukkan kesederhanaan/zuhud.
2. "Dari as-shifah (الصِّفَة). Karena tasawuf secara umum adalah sifat-sifat yang mulia, dan meninggalkan sifat-sifat yang tercela" (Iqodzul Humam fi Syahril Hikam, Ibnu Ajibah, hal. 6).
3. "Dari as-shofa (الصفاء). Kata Abul Fatah Al-Basti:
تنازع الناس في الصوفي واختلفوا وظنه البعض مشتقا من الصوف
ولست أمنح هذا الاسم غير فتى صفا فصوفي حتى سمي الصوفي
(Orang berbeda pendapat tentang sufi. Sebagian menyangka berasal dari kata shuf. Aku tidak memberikan nama ini kecuali kepada orang, yang bersih (shofa) sehingga ia bisa disebut shufi (orang yang bersih)" (Iqodzul Humam fi Syahril Hikam, Ibnu Ajibah, hal. 6).
4. "Dari shuffah (الصُفَّة). Karena pengikutnya mengikuti jejak penghuni sufah (asrama para sahabat di Madinah). Seperti yang sifat-sifatnya disebutkan Allah Swt. "Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang yang berdoa kepada Tuhan mereka pagi dan petang yang hanya mengharapkan rido Allah" (Al-Kahfi: 28).
5. "Dari sofwah (الصفوة) atau pilihan, begitu kata Imam Qusyairi.
6. "Dari shof (الصَّف) atau barisan. Seolah-olah dengan hatinya mereka berada di shaf pertama karena selalu bersama Allah Swt. dan berlomba mengikuti berbagai ketaatan kepada Allah.
III. Perkembangan ilmu tasawuf:
Dr. Ahmad Alwasy:
"Banyak orang bertanya mengapa tasawuf tidak populer pada generasi awal Islam, dan hanya muncul pasca sahabat dan tabi'in? Jawabannya: karena pada abad pertama hijriyah belum ada kebutuhan terhadapnya. Di zaman ini masyarakatnya ahli taqwa, wara', zuhud dan ibadah. Tentu karena kedekatan masa hidup mereka dengan Rasulullah Saw. Mereka berlomba mengikuti jejak Rasulullah Saw. Makanya belum ada kebutuhan untuk mengajarkan ilmu ini sebagai sebuah disiplin.
Perbandingannya, generasi itu adalah bangsa Arab murni. Mereka memiliki keahlian berbahasa Arab yang fasih dari generasi ke generasi. Syair mereka mengalir, tanpa membutuhkan pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa Arab, nahwu, shorof dan balagoh. Kondisi seperti ini tidak membutuhkan pengajaran nahwu dan mempelajari balagah. Tetapi ilmu nahwu, kaidah-kaidah bahasa dan syair menjadi sangat penting ketika kesalahan-kesalahan bahasa sudah menggejala, terjadi pelemahan kemampuhan berekspresi, orang asing yang ingin mengetahui dan memahami bahasa Arab, atau ketika ilmu ini menjadi tuntutan di masyarakat, seperti halnya disiplin-disiplin lain yang terbentuk karena ada situasi dan kondisi yang menuntutnya lahir.
Para sahabat dan tabiin –walaupun mereka tidak menyebut dirinya sebagai sufi- hakikatnya mereka adalah para sufi. Apa yang dimaksud tasawuf selain seseorang hidup hanya untuk Tuhannya, zuhud, terus melakukan ubudiyyah, setiap saat menghadap Allah dengan ruh dan hatinya? Kesempurnaan dan keluhuran ruhiyah telah dicapai oleh para sahabat dan tabi'in. Mereka tidak hanya cukup dengan berikrar, mengakui akidah dan keimanan kepada Allah, dan melaksanakan berbagai kewajiban dalam Islam; tetapi pengakuan itu mereka barengi dengan penghayatan yang mendalam. Ibadah-ibadah wajib mereka tambah dengan amal-amal sunnah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Mereka menjauhkan diri dari berbagai amal yang dimakruhkan, apalagi yang diharamkan. Sehingga mata batin mereka bersinar terang, sumber-sumber kearifan terpancar dari hati mereka, dan rahasia-rahasia rabbani menjadi aura yang memancar dalam jasad mereka.
Ciri-ciri seperti ini terjadi juga dengan para tabi'in dan tabi'it tabi'in. Tiga generasi ini adalah zaman keemasan dalam sejarah Islam. Rasulullah Saw. telah bersaksi: "Sebaik-baiknya manusia adalah zamanku ini, kemudian generasi seteleh mereka, kemudian generasi setelah mereka" (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
Ketika zaman terus bergulir, berbagai ras dan suku berbondong-bondong masuk Islam, ilmu-ilmu semakin meluas, cabang dan keahlian baru terus tumbuh, setiap kelompok menuliskan ilmu yang dikuasainya; maka lahirkan ilmu nahwu, ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu hadits, ushuluddin, tafsir, mantiq, mustolahul hadits, ilmu ushul fikih, faraid dan lain-lain.
Setelah masa kodifikasi ilmu, kehidupan ruhiyah umat secara perlahan mengalami degradasi. Orang-orang mulai lupa dengan pentingnya beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati dan kesungguhan. Inilah yang membuat para zahid berpikir untuk mengkodifikasikan ilmu tasawuf, menujukkan kemuliaan dan posisinya dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain. Hal itu tidak dimaksudkan untuk menyaingi kelompok-kelompok lain –seperti yang salah dipahami oleh orientalis- tetapi untuk menutupi kekurangan, dan melengkapi kebutuhan agama dalam berbagai sisi kehidupan, dalam rangka menyiapkan umat mencapai kebaikan dan takwa" (Dr. Ahmad Alwasy, At-Tasawwuf min Wijhatit Tarikhiyyah, dalam Al-Muslim, Majalah Al-Asyirah Al-Muhammadiyyah, Muharram, 1376 H).
Sayyid Muhammad Shodiq Al-Gomari:
"Orang yang pertama mendirikan tarekat. Ketahuilah tarekat dibangun oleh wahyu yang turun dari langit sebagai keseluruhan ajaran yang telah membangun agama Islam. Karena tidak ada keraguan, tarekat adalah salah satu pilar agama yang tiga, yang telah dijelaskan oleh Nabi satu demi satu sebagai agama, dalam sabdanya: "Itulah Jibril yang datang kepada kalian, mengajarkan agama kalian" (HR Muslim dalam Kitab Al-Iman dari Umar bin Khatab), yaitu: Islam, iman dan ihsan.
Karena Islam adalah ketaatan dan ibadah. Iman adalah cahaya dan aqidah. Dan ihsan adalah maqom muraqobah dan musyahadah: "Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, jika tidak melihatnya sesungguhnya Dia melihat engkau".
Berdasarkan hadits tadi, tarekat merupakan bagian dari rukun yang tiga. Barang siapa yang menyia-nyiakan maqam ihsan yaitu tarekat, maka agamanya minus, karena telah meninggalkan salah satu rukun agama. Karena target utama dan makna tarekat adalah maqam ihsan. Yaitu maqom yang bisa dicapai setelah memiliki Islam dan iman yang benar" (Muhammad Sodiq Al-Ghomari, Al-Intishor li Thoriqis Sufiyyah, hal. 6).
Ibnu Khaldun:
"Ilmu tasawuf merupakan ilmu yang relatif baru dalam agama ini. Aselinya tradisi sufistik ini ada dalam kebiasaan generasi salaf, para pembesar sahabat dan tabi'in, juga generasi setelah mereka yang mengampu kebenaran dan hidayah. Aslinya yang mereka lakukan itu adalah konsentrasi penuh untuk beribadah, memutuskan diri dari selain Allah, berpaling dari kemewahan hidup dunia, zuhud dari kecenderungan masyarakat umum yaitu hidup dengan kemewahan, harta dan popularitas, mengasingkan diri dari makhluk, dan khulwah untuk beribadah. Kebiasaan seperti itu umum di kalangan sahabat dan generasi salaf. Tetapi ketika kecenderungan masyarakat terhadap keduniaan semakin menggejala di abad kedua dan setelahnya, orang-orang yang memfokuskan diri untuk beribadah menyebut dirinya sebagai sufi" (Muqodimah Ibnu Khaldun, ilmu tasawuf, hal. 329).
Muhammad bin Shodiq Al-Ghamari:
"Perspektif Ibnu Khaldun tentang sejarah kemunculan tasawuf, dikuatkan oleh Al-Kindi –hidup di abad ke 4 H.- ketika dalam bukunya "Wulatu Misr" menceritakan tentang berbagai peristiwa tahun 200 H. Bahwa di Alexandria muncul satu kelompok yang disebut dengan sufiyyah, mereka melakukan amar makruf dan nahyil munkar. Begitu pula yang disebutkan Al-Mas'udi dalam "Murawwijud Dzahab", ketika menceritakan Yahya bin Ukhtsum. Beliau bercerita: suatu waktu Al-Makmun sedang duduk, ketika itu Ali bin Sholih –seorang ajudan kekhalifahan berkata: wahai Amirul Mukminin! Ada orang yang berdiri di depan pintu, memakai baju putih yang kasar, meminta izin masuk untuk berdialog. Ketika itu aku tahu, dia adalah sebagian orang sufi. Kedua hikayat itu membenarkan pendapat Ibnu Khaldun tentang sejarah perkembangan tasawuf. Dalam Kasyfud Dzunun diceritakan bahwa orang yang pertama disebut sufi adalah Abu Hasyim As-Sufi (w. 150 H.). (Al-Ghomari, Al-Intishor li Thoriq As-Sufiyyah, hal. 17-18).
Imam Al-Qusyairi:
"Ketahuilah, sesungguhnya umat Islam sepeninggal Rasulullah Saw. tidak menyebut dirinya di zaman mereka dengan nama selain sebagai sahabat Rasulullah Saw. Karena tidak yang nama yang lebih baik selain itu. Mereka dijuluki sahabat. Merekapun bertingkat-tingkat. Elit-elit masyarakat (khwas) yang paling concern dengan urusan agama, disebut zuhad atau ubbad. Kemudian muncullah kebid'ahan. Setiap kelompok mengklaim lebih baik dari kelompok lain, dan masing-masing kelompok mengaku memiliki banyak zahid. Maka kelompok elit Ahlus Sunnah yang menjaga hubungan mereka dengan Allah Swt., dan memperhatikan agar dalam hati mereka tidak terjadi goflah, menyebut dirinya sebagai tasawuf. Nama ini populer di kalangan para elit itu sebelum tahun 200 H." (Haji Khalifah, Kasyfud Dzunun, vol.1, hal. 414).
IV. Urgensi Tasawuf:
Seluruh taklif syar'i yang dibebankan kepada manusia hakikatnya ada dua bagian. Pertama, hukum-hukum yang berhubungan dengan amal-amal dzohir. Kedua, hukum-hukum yang berhubungan dengan amal batin. Dengan kata lain: pertama hukum yang berhubungan dengan badan manusia, kedua amal-amal yang berhubungan dengan hatinya.
Amal-amal yang bersifat fisik ada dua jenis: perintah dan larangan. Perintah-perintah Allah seperti sholat, zakat, haji dan lain-lain. Dan larangan seperti membunuh, berzina, mencuri, meminum khamar dan lain-lain.
Amal-amal yang berhubungan dengan hati juga terdiri dari perintah dan larangan. Perintah seperti: iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan lain-lain, ikhlas, rido, jujur, khusyu, tawakal dll. Larangan seperti: kekufuran, kemunafikan, kesombongan, membanggakan diri, riya, angkuh, iri dan dengki dan lain-lain.
Bagian kedua yang berhubungan dengan hati lebih penting dari yang pertama di hadapan Allah, walaupun semuanya memang penting. Karena batin adalah dasar dan sumber dari segala yang dzohir. Amal-amal hati akan melandasi amal-amal yang dzohir. Sehingga jika batin rusak akan membuat kesia-siaan seluruh amal yang dzohir. Allah berfirman:
"Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Al-Kahfi: 110).
Sebab itu Rasulullah Saw. mengarahkan agar para sahabat concern memperbaiki hati. Beliau menjelaskan bahwa kebaikan manusia tergantung pada kebaikan hati. Kualitas hidup adalah sejauh mana ia terbebas dari berbagai penyakit batin. Beliau bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya dalam hati manusia ada segumpal daging (mudgoh). Jika ia baik, akan baik pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, akan rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, itulah hati" (Soheh Bukhari dalam Kitab Al-Iman, dan Soheh Muslim dalam Kitab Al-Musaqot, dari Nu'man bin Basyir).
Rasul mengajarkan bahwa penilaian Allah terfokus pada hati hamba-hamba-Nya: "Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad atau penampilan kalian. Tetapi Allah melihat hati kalian" (Soheh Muslim dalam Kitab Al-Birru was Silah, dari Abu Hurairah).
Jika kebaikan manusia digantungkan pada kebaikan hati yang menjadi sumber dari seluruh amal dzohirnya, maka ia harus memperbaiki dan membersihkannya dari segala sifat tercela yang dilarang Allah Swt. dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji yang telah diperintahkan Allah Swt. Ketika itu hatinya akan selamat dan ia akan termasuk orang-orang yang selamat "Pada suatu hari, dimana harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang baik" (As-Syuara: 88-89).
Jalaluddin As-Suyuti: "Ilmu yang berhubungan dengan hati dan mengetahui berbagai penyakitnya, seperti hasad, ujub, riya dan sebagainya, menurut Al-Ghazali adalah fardu ain" (Al-Asybah wan Nadzoir, hal. 504).
Membersihkan dan mensucikan hati karena itu merupakan fardu ain yang paling penting, dan perintah Allah yang paling wajib. Dalilnya ada dalam Kitab, Sunnah dan pendapat para ulama:
1. Dalam Al-Quran:
•
"Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi.." (Al-A'raf: 33).
•
"Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi" (Al-An'am: 151).
Perbuatan-perbuatan keji yang tersembunyi seperti yang ditafsirkan oleh para ulama dalah: iri, dengki, riya, kemunafikan dan lain-lain.
2. Dalam Sunnah:
1. Setiap hadits yang menerangkan larangan untuk iri, dengki, sombong, riya..juga hadits-hadits yang memerintahkan untuk menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan perlakuan yang baik kepada orang lain. Termasuk dalam klasifikasi ini sabda Nabi:
(لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر)
"Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya ada seberat dzarah dari ketakaburan" (HR Muslim dalam Kitab Iman, dari Ibnu Mas'ud).
2. Hadits: "Iman lebih dari 70 bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat la ilaha illallah. Yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan malu adalah sebagian dari iman" (HR. Bukhari dan Muslim dalam Kitab Al-Iman, dari Abu Hurairah).
Kesempurnaan iman karena itu digantungkan pada sejauh mana bagian-bagian iman ini dilengkapi. Semakin lengkap, semakin tinggi pula kualitas imannya. Semakin berkurang makin minus pula kualitas imannya. Dan penyakit-penyakit batin dapat menghancurkan amal manusia, betapapun amal-amal itu banyak.
3. Pendapat para ulama:
Menurut para ulama, penyakit-penyakit hati termasuk dosa-dosa besar yang masing-masing harus ditaubati.
Al-Bajuri: "Perintahlah pada kebaikan dan jauhilah namimah, gibah dan segala bentuk keburukan, seperti ujub, takabur, dengki, dan penyakit hasud..". Segala bentuk keburukan, artinya keburukan menurut syariat. Di sini penulis (Al-Bajuri) khusus memperhatikan penyakit-penyakit jiwa. Karena orang yang membiarkan keburukan itu melekat dalam dirinya, meskipun ia concern memperbaiki perilaku dzohir, perumpamaannya adalah seperti orang yang memakai pakaian yang necis tetapi badannya penuh dengan kotoran. Seperti orang yang suka beribadah tetapi ujub, ia melihat ibadah yang telah dilakukannya dengan penuh kekaguman. Sebagaimana ahli ibadah haram ujub dengan ibadahnya, dan seorang alim haram ujub dengan ilmunya, demikian riya hukumnya haram" (Al-Bajuri, Syarah Al-Jauharah, hal. 120-122).
Ibnu Abidin: "Sesungguhnya pengetahuan tentang ikhlas, ujub, hasad dan riya adalah fardu ain. Demikian pula penyakit-penyakit kejiwaan lain seperti takabur, pelit, dengki, menipu, marah, permusuhan, tamak, merendahkan orang lain, khianat, menolak kebenaran dll., seperti yang dijelaskan Imam Ghazali dalam rub'ul muhlikat (seperempat pembahasan kitab ihya tentang masalah-masalah yang menghancurkan diri manusia). Kata Al-Ghazali: tidak ada orang yang terbebas dari potensi terjangkit penyakit kejiwaan seperti itu. Karena itu orang harus mempelajari sesuatu yang ia perlukan, yang potensial menjangkitinya.
Menghilangkan penyakit-penyakit itu adalah fardu ain. Dan itu tidak mungkin kecuali dengan mengetahui hakikatnya, penyebabnya, ciri-cirinya, dan bagaimana mengobaatinya. Karena orang yang tidak mengetahui keburukan, ia bisa terjerumus ke dalamnya" (Hasyiah Ibnu Abidin, vol. 1, hal. 31).
Tasawuf tidak lain ilmu yang mengobati penyakit-penyakit hati, mensucikan dan membersihkannya dari berbagai sifat yang tercela.
Fungsi dan pentingnya tasawuf menurut Ibnu Zakwan: "Ilmu yang bisa mensucikan batin dari berbagai kotoran-kotoran hati".
Al-Manjuri: "Tasawuf adalah ilmu yang bisa dipergunakan untuk mengetahui bagaimana cara mensucikan batin dari berbagai kotoran-kotoran hati. Artinya dari berbagai kelemahan dan sifat-sifatnya yang tercela..Karena ilmu tasawuf melihat aib-aib diri, dan cara-cara mengobatinya. Dengan ilmu tasawuf orang akan bisa melewati rintangan kejiwaan dan membebaskan diri dari akhlak dan sifat-sifat yang tercela. Sehingga bisa mengosongkan hati dari selain Allah, dan menghiasinya dengan dzikir kepada Allah Swt." (Mustofa Ismail Al-Madani, Nusrotun Nubuwwah, hal. 26).
Menghiasi jiwa dengan sifat-sifat kesempurnaan, seperti: taubat, taqwa, istiqomah, kejujuran (sidq), ikhlas, zuhud, wara', tawakal, rido, menyerahkan diri kepada Allah (taslim), adab, cinta, dzikir dan muraqobah; orang-orang sufi memiliki bagian yang cukup besar dalam hal ini, baik ilmu maupun amal.
Karena pentingnya tasawuf terhadap kebaikan lahir dan batin seorang Muslim, Imam Ghazali mengatakan: "Masuk menjadi seorang sufi adalah fardu ain. Karena tidak ada orang yang bebas dari penyakit batin kecuali para Nabi, semoga Allah memberikan sholawat dan salam kepada mereka" (Al-Fasi, An-Nusroh An-Nabawiyyah, hal. 26). Tentu yang dimaksud dengan tasawuf menurut Imam Ghazali adalah yang memiliki kriteria yang ia maksudkan.
Kata Fudeil bin Iyad: "Engkau harus konsisten di jalan kebenaran. Jangan merasa terasing karena sedikit orang yang berjalan di sini. Jangan sesekali engkau berpijak di jalan kebatilan, dan jangan terperdaya karena jumlah mereka yang menemui kehancuran itu banyak jumlahnya. Jika engkau merasa sepi karena kesendirian engkau, tengoklah orang yang sudah mendahului engkau dan kejarlan mereka. Tutuplah mata dari orang-orang selain mereka, karena mereka tidak akan membuat engkau berkecukupan di hadapan Allah. Jika mereka berteriak memanggil engkau jangan menengok kepada mereka. Karena jika engkau menengok, mereka akan memalingkan engkau dari jalan kebenaran itu, dan mereka akan menistakan engkau". (Ibnul Qoyyim, Manazilus Salikin, tahqiq: Muhammad Hamid Al-Fiqi, vol. 1, hal. 22, Beirut: Darul Kitab Al-Arabi, cet. 2, 1983).
V. KESAKSIAN PARA ULAMA TENTANG TASAWUF:
1. Imam Malik:
الإمام مالك: من تفقه ولم يتصوّف فقد تفسق، ومن تصوّف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن جمع بينهما فقد تحقق.
Imam Malik: "Siapa yang menggali fiqih (tafaquh) tapi tidak bertasawuf, ia bisa menjadi fasik. Siapa yang bertasawuf tapi tidak tafaquh, ia bisa menjadi zindiq. Siapa yang menggabungkan antara keduanya, ia telah membuktikan dirinya sebagai Muslim sejati (tahaqqoq)". [Ali bin Sultan Muhammad Al-Qori (w. 1014 H), Mirqotul Mafatih Syarh Misykatil Masobih, tahqiq: Jamal Aitani, vol. 1, hal. 478, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, cet. 1, 2001]
أبو طالب المكي: هما (الفقه والتصوف) علمان أصليان لا يستغني أحدهما عن الآخر، بمنزلة الإسلام والإيمان مرتبط كل منهما بالآخر، كالجسم والقلب لا ينفك أحد عن صاحبه.
Abu Tolib Al-Maki: "Fikih dan tasawuf adalah dua ilmu yang fundamental, satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Seperti Islam dan iman terkait satu sama lain. Seperti jasad dan hati tidak bisa dipisahkan dari yang lain". [Ali Al-Qori, Mirqotul Mafatih, vol. 1, hal. 478]
2. Imam Syafi'i:
قال الشافعي رضي الله عنه: صحبت الصوفية فما انتفعت منهم إلا بكلمتين، سمعتهم يقولون: الوقت سيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل
Imam Syafi'i: "Saya menyertai orang sufi, tidak mengambil pelajaran dari mereka kecuali dua kalimat. Saya mendengar mereka berkata: waktu adalah pedang. Jika tidak engkau pergunakan untuk memotong, ia akan memotong engkau. Jiwa engkau, jika engkau tidak membuatnya sibuk dengan kebenaran, ia akan menyibukkan engkau dengan kebatilan". (Ibnul Qoyim, Madarijus Salikin, vol. 3, hal. 129).
3. Imam Ahmad:
إبراهيم بن عبد الله القلانسي قال قيل لأحمد بن حنبل: إن الصوفية يجلسون في المساجد بلا علم على سبيل التوكل، قال: العلم أجلسهم. فقيل: ليس مرادهم من الدنيا إلا كسرة خبز وخرقة، فقال: لا أعلم على وجه الأرض أقواما أفضل منهم.
Ibrahim bin Abdullah Al-Qolansi menyebut, ada orang berkata kepada Ahmad bin Hambal: orang-orang sufi mereka duduk di mesjid tanpa ilmu mereka menyebut sedang bertawakal. Kata Ibn Hambal: ilmulah yang telah membuat mereka duduk di mesjid. Dikatakan: harapan mereka dari dunia hanyalah sepotong roti dan sehelai baju. Kata Ibnu Hambal: di muka bumi ini saya tidak tahu ada orang-orang yang lebih baik dari mereka". (Muhammad bin Muflih Al-Maqdisi, Al-Adab As-Syar'iyyah wal Minah Al-Mar'iyyah, tahqiq: Syuaib Al-Arnauth/Umar Al-Qiyam, vol. 2, hal. 308, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 2, 1996 H).
4. Al-Harits Al-Muhasibi:
"Telah dijelaskan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 70 sekte lebih, satu diantaranya adalah kelompok yang selamat, dan Allah lebih tahu sesisanya. Saya masih terus menginfakkah umurku untuk mempelajari perbedaan umat, mencari manhaj yang terang, jalan yang paling lurus, mencari ilmu dan amal, mengambil petunjuk para ulama untuk menerangi jalan menuju akhirat, memahami banyak kalamullah dengan penafsiran para fuqoha, merenungkan kondisi umat, mengkaji berbagai madzhab dengan pendapat-pendapat yang dimilikinya. Saya pun memberikan komentar sebisa mungkin. Saya melihat perbedaan mereka seperti bahtera yang sangat dalam. Banyak orang yang tenggelam di dalamnya, hanya sedikit saja orang-orang yang selamat.
Saya melihat setiap kelompok menyangka bahwa keselamatan hanya milik orang-orang yang mengikutinya, dan kehancuran akan terjadi dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka.
Kemudian saya melihat berbagai macam manusia. Di antara mereka ada orang yang alim menyangkut persoalan akhirat. Menemui orang seperti ini sulit, dan keberadaannya sangat berarti.
Ada orang yang jahil. Jauh darinya adalah keberuntungan.
Ada orang yang menyerupai ulama, tetapi sangat mencintai dunia dan menjadikannya sebagai prioritas utama.
Ada orang berilmu agama. Tetapi dengan ilmunya ia mencari popularitas dan kehormatan. Dia mendapatkan keberuntungan dunia dari agamanya.
Ada orang yang berilmu. Tetapi ia tidak begitu paham dengan ilmu yang dibawanya.
Ada orang yang menyerupai ahli ibadah, mencari peluang-peluang kebaikan, tidak memiliki kekayaan juga tidak berilmu.
Ada orang yang tergolong cerdik cendekia, tapi kehilangan wara dan takwa.
Ada orang yang berdiri di gerbang hawa nafsu, dekat dengan dunia, dan mencari kekuasaan.
Di antara mereka ada manusia dari golongan syeitan. Mereka memalingkan manusia dari negeri akhirat. Berebut dunia, mengumpulkan dan mencari sebanyak-banyaknya dunia. Di bidang dunia mereka termasuk orang yang hidup, tetapi menyangkut akhirat mereka tergolong mati. Bahkan kebaikan dianggapnya kemunkaran.
Saya pun mengevaluasi diri, termasuk kelompok manakah diriku ini. Inilah yang membuat saya mencari petunjuk dari orang-orang lurus untuk mendapatkan taufik dan hidayah. Menggali ilmu, berpikir serius, dan lama merenung. Dari Kitab Allah, Sunah Nabi Saw. dan ijma umat diperoleh kesimpulan, bahwa mengikuti hawa nafsu akan membuat mata menjadi buta hingga tidak memperoleh petunjuk, sesat dari kebenaran, dan lama berada dalam keadaan buta.
Maka saya memulai untuk menggugurkan hawa nafsu dari hatiku. Mencermati perbedaan umat untuk mencari tahu yang manakah golongan yang selamat itu. Sambil berhati-hati dari hawa nafsu yang menghancurkan dan golongan yang celaka, berhati-hati pula untuk memberikan vonis sebelum lengkap penjelasan tentangnya, dan aku mencari keselamatan.
Kemudian saya dapatkan bahwa umat sepakat berdasarkan ajaran Kitab Allah yang diturunkan kepada NabiNya, jalan menuju keselamatan itu adalah konsisten dalam ketaqwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban syariah, berhati-hati (wara) baik menyangkut yang halal, haram dan seluruh hukum Allah Swt., ikhlas dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan mengikuti jejak Rasulullah Saw.
Saya pun menggali ilmu pengetahuan tentang berbagai kewajiban dan sunnah dari para ulama. Saya melihat ada sesuatu yang disepakati, ada pula yang diperdebatkan. Tetapi semuanya sepakat bahwa ilmu tentang wajib dan sunnah ada pada para ulama yang arif kepada Allah dan perintahNya, mendapatkan pemahaman dari Allah, mengamalkan segala hal yang bisa mendatangkan keridoan Allah, berhati-hati menjaga diri (wara) agar tidak terjebak ke dalam perkara yang diharamkan, mengikuti jejak Rasulullah Saw., mendahulukan akhirat dari pada dunia. Mereka itulah orang-orang yang komitmen dengan perintah Allah dan sunnah para utusan.
Saya mencari kelompok ini di tengah-tengah umat, dengan sifat-sifat seperti disebutkan tadi dalam hidup mereka, untuk berguru dan mengambil ilmu mereka. Saya dapatkan mereka adalah golongan yang sedikit saja dari kelompok minoritas. Saya juga melihat ilmu mereka semakin surut, seperti yang disebutkan Rasulullah Saw.: "Islam pertama kali dipandang asing, dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing". Mereka itulah orang-orang konsisten dengan agama meraka.
Saya mulai merasa bahwa kehilangan para wali yang bertaqwa adalah musibat yang paling besar. Saya merasakan ketakutan yang sangat jika kematian tiba-tiba datang menjemputku dalam usiaku yang masih bingung dengan perselisihan umat. Maka segera mencari seorang alim yang belum aku ketahui, dengan penuh kehati-hatian dan terus mencari tahu tentang keberadaan mereka. Kemudian seolah-olah Allah Saw. yang menyayangi hamba-hambaNya menceritakan kepadaku tentang orang-orang yang saya temui. Di tengah-tengah mereka saya mendapakan tanda-tanda ketakwaan, ciri-ciri wara' dan mendahulukan akhirat ketimbang dunia.
Saya dengar nasihat dan wejangan meraka sesuai dengan yang dilakukan oleh para ulama yang mendapatkan petunjuk. Mereka memberikan nasihat kepada umat. Tidak pernah berharap ada orang yang melakukan maksiat kepada Allah. Merekapun tidak pernah putus asa dengan rahmatNya. Selalu rido dengan bersabar atas segala bentuk musibat dan penderitaan. Rela dengan takdir. Syukur atas nikmat. Menjadikan Allah mencintai hamba-hambaNya dengan cara mengingatkan manusia akan nikmat dan kebaikan Allah. Mendorong manusia untuk kembali kepada Allah. Mereka adalah para ulama yang mengenal betul keagungan Allah. Para ulama yang mengagungkan kebesaran Allah. Ulama yang mengerti Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Mereka orang-orang yang mengerti agamanya. Ulama dengan menerima apa yang dicintai dan yang dibenci Allah. Menjaga diri dari kedib'ahan dan hawa nafsu. Menjauhi sikap ekstrim. Tidak suka melakukan debat kusir. Berhati-hati agar tidak melakukan gibah dan kedoliman. Melawan hawa nafsunya. Melakukan muhasabah terhadap dirinya. Bisa mengontrol anggota badannya. Berhati-hati menyangkut makan, pakaian dan segala kondisinya. Menjauhi syubhat, meninggalkan syahwat, mencukupkan diri dengan sesuap makan, mencukupkan diri dengan sedikit barang mubah, zuhud dalam harta yang halal, khawatir dengan apa yang akan terjadi dalam hisab, takut dengan apa yang terjadi setelah kebangkitan. Ketika setiap orang sibuk menguruskan urusan dirinya sendiri. Mengetahui benar dengan urusan akhirat, tentang hari kiamat, pahala yang besar dan siksa yang sangat pedih. Itu semua telah membuat mereka selalu sedih, tetapi juga selalu bersemangat untuk beramal. Sehingga mereka lupa dengan kebahagiaan dan kenikmatan dunia.
Mereka telah menyebutkan sifat-sifat tentang adab beragama. Mereka telah memberikan ajaran tentang wara' yang membuat hatiku menjadi sempit. Ketika itu saya tahu bahwa adab beragama dan wara yang benar merupakan samudera yang sulit untuk orang sepertiku selamat tidak tenggalam di dalamnya, dan orang-orang sepertiku mampu melaksanakannya. Semakin jelas bagiku keutamaan mereka. Jelas bagiku kebaikan mereka. Saya menjadi yakin, mereka adalah orang-orang yang bekerja di jalan akhirat, mengikuti jejak para rasul. Mereka adalah lentera yang bisa dijadikan penerang, dan petunjuk bagi orang yang mengikutinya.
Saya menyukai cara hidup seperti itu. Mengambil manfaat dari mereka. Mengikuti cara mereka kembali kepada Allah. Mencintai ketaatan mereka. Tidak berpaling dari mereka, dan tidak mendahulukan orang lain ketimbang mereka. Maka Allah pun membukakan pintu ilmuNya kepadaku. Sehingga hujjahNya menjadi jelas, dan keutamaannya menerangiku. Saya berharap keselamatan akan didapat oleh orang yang mendekat atau mengikutinya. Saya menjadi yakin, orang yang melakukan itu akan mendapatkan keselamatan.
Sebaliknya saya melihat penyimpangan terjadi dengan orang yang berbeda haluan dengan mereka. Saya melihat noda-noda hitam semakin bertumpuk di hati orang yang menjaili atau menentangnya. Saya melihat hujjah besar bagi orang yang memahaminya. Sehingga mengikuti jejak mereka dan mengamalkan ajaran-ajarannya menjadi wajib bagiku. Hal itu diyakini dalam relung hatiku. Saya jadikan itu semua sebagai fondasi agamaku. Amal perbuatanku dibangun di atasnya. Atas dasar itu saya mengevaluasi kondisi diriku.
Saya pun berdoa kepada Allah agar Dia berkenan menganugerahkan syukur atas nikmat yang telah dianugerahkanNya kepadaku. Agar Dia memberikan kekuatan kepadaku untuk mengamalkan apa yang telah diajarkannya kepadaku. Meskipun saya tahu, betapa lemah diriku, dan betapa aku selamanya tidak bisa melakukan syukur yang memadai atas nikmat-nikmatNya. (Al-Harits Al-Muhasibi, Al-Wasoya, tahqiq: Abdul Qodir Ahmad Ato, hal. 59-64, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, cet. 1, 1986).
5. Abdul Karim Al-Qusyairi:
"Allah telah menjadikan kelompok ini sebagai kekasih pilihanNya, melebihkan mereka dari seluruh hambaNya –setelah para rasul dan nabi AS, menjadikan hati mereka sebagai sumber rahasia Allah Swt, Allah khusus memperlihatkan kepada mereka cahaya-cahayaNya. Mereka menjadi sebab datangnya pertolongan kepada makhluk. Secara umum kondisi mereka bersama Allah dalam menjalankan kebenaran. Allah membersihkan mereka dari kotoran-kotoran kemanusiaan. Mengangkat mereka sehingga bisa menyaksikan manifestasi hakikat Allah Swt. di alam semesta. Allah memberikan taufik sehingga mereka bisa melaksanakan adab-adab ibadah, dan memperlihatkan jalur hukum-hukum Allah. Maka mereka menegakkan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada mereka, dan membenarkan bahwa seluruh yang terjadi dengan diri mereka kembali kepada kehendak dan kuasa Allah. Merekapun kemudian kembali kepada Allah Swt. dengan kesadaran yang tulus bahwa mereka membutuhkan Dia, dengan hati yang rengkuh. Mereka tidak berbicara tentang amal-amal yang mereka lakukan, atau kondisi batin mereka yang jernih. Mereka tahu bahwa Allah Swt. melakukan apa yang Dia inginkan, dan memilih hamba-hamba yang Dia kehendaki. Tidak didikte oleh makhluk, dan makhluk tidak punya hak untuk menuntut Dia. Pahala yang diberikan-Nya adalah semata-mata kemurahan-Nya. Adzab yang diberikan-Nya adalah eksekusi pengadilan yang adil. Dan perintah-Nya adalah keputusan yang final". (Abdul Karim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, tahqiq: Khalil Al-Mansur, hal. 8, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiah, 2001.
6. Imam Ghazali:
"Saya tahu dengan yakin bahwa kaum sufi adalah orang-orang yang khusus berjalan di jalan Allah dan perilaku mereka sangat baik. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang paling benar. Akhlak mereka paling mulia. Bahkan andai berkumpul seluruh kaum cendekia, orang-orang bijak dan para ulama yang mengerti betul tentang rahasia-rahasia hukum syariat, untuk merubah perilaku dan akhlak mereka dan mencari alternative yang lebih baik untuk mereka, pasti mereka tidak bisa melakukan itu. Karena seluruh gerak dan diam mereka, baik lahir maupun batin, diambil dari cahaya kenabian. Dan selain cahaya kenabian tidak ada cahaya yang bisa dijadikan panutan". (Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Munqidz minad Dzolal, tahqiq: Muhammad Muhammad Jabir, hal. 49-50, Beirut: Al-Maktabah Al-Tsaqofiyah, tt.)
7. Abdul Qohir Al-Bagdadi:
"Kelompok keenam adalah para zuhad dan sufi. Mereka adalah orang-orang yang melihat tetapi penglihatannya "pendek" [tidak panjangan angan-angan]. Mendapat cobaan dan mengambil pelajaran dari cobaan itu. Rela dengan takdir. Menerima pemberian Allah meskipun sedikit. Mereka tahu bahwa pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggung jawaban, baik menyangkut kebaikan atau keburukan. Dan amal-amal mereka akan dihisab, meskipun untuk ukuran amal yang paling kecil. Karenanya sebaik-baiknya mereka menyiapkan bekal untuk hidup setelah kebangkitan. Pembicaraan mereka berbentuk ungkapan yang tegas atau isyarat, seperti halnya ahlul hadits, dan pembicaraan mereka tidak sia-sia. Mereka tidak melakukan kebaikan dengan riya, tidak pula meninggalkan kebaikan karena malu. Agama mereka adalah tauhid dan menegasikan adanya keserupaan antara Allah dengan makhluk-makhlukNya (tasybih). Madzhab mereka adalah menyerahkan (tafwidz) kepada Allah, tawakal dan menyerahkan diri kepada Allah. Mereka qonaah dengan rezeki yang diberikan Allah, dan menolak untuk berkeluh kesah kepadaNya: "Itulah karunia Allah, diberikan kepada orang yang dikehendakiNya. Sesungguhunya Allah Maha Pemurah lagi Maha Agung". (Abdul Qohir Al-Bagdadi (w. 429 H), Al-Farqu Bainal Firaq wa Bayanil Firqoh An-Najihah, hal. 302-303, hal. Beirut: Darul Afaq Al-Jadidah, cet. 2, 1977)
8. Ibnu Taimiyyah:
"Adapun orang-orang yang berjalan menuju Allah dengan istiqomah, seperti mayoritas masyayikh salaf, seperti Al-Fudail bin Iyad, Ibrahim bin Adham, Abu Sulaiman Ad-Darani, Ma'ruf Al-Kurkhi, Sirri As-Saqthi, Al-Junaid bin Muhammad, dan lain-lain dari generasi terdahulu. Dan seperti Syeikh Abdul Qodir [Jaelani), Syeikh Hamad, Syeikh Abul Bayan dan lain-lain dari generasi mutaakhirin. Mereka tidak memperbolehkan seorang sufi –walaupun dia bisa terbang atau berjalan di atas air- untuk keluar dari ketentuan perintah dan larangan Allah. Dia harus melakukan perkara yang diperintahkan dan meninggalkan perkara yang dilarang, sampai dia meninggal. Inilah kebenaran yang ditunjukkan oleh Al-Quran, sunnah dan ijma generasi salaf". (Ibnu Taimiyyah, Majmu Fatawa, tahqiq: Abdurrahman bin Muhammad An-Najdi, vol. 10, hal. 516-517, Maktabah Ibnu Taimiyyah, cet. 2, tt.)
BAB II:
TRADISI SUFISTIK
Mukadimah:
1. Kebersamaan dengan guru:
2. Al-Warits Al-Muhammadi:
3. Baiat:
4. Ilmu
5. Mujahadatun nafsi
6. Dzikir
7. Mudzakarah
8. Khulwah
BAB I: DEFINISI TASAWUF:
I. Definisi:
Zakaria Al-Anshori (w. 929 H): "Tasawuf adalah ilmu yang bisa dipergunakan untuk mengetahui kondisi kesucian jiwa, kebersihan akhlak, membangun kebaikan lahir dan batin untuk mendapatkan kebahagiaan abadi" (Risalah Al-Qusyairiyyah dalam catatan kaki, hal. 7).
Ahmad Zaruq (846-899 H): "Tasawuf adalah ilmu yang dimaksudkan untuk memperbaiki hati, memurnikannya untuk Allah saja. Fiqih adalah ilmu untuk memperbaiki amal, menjaga keteraturan hidup, dan lahirkannya kearifan dengan tegaknya hokum. Ushul (ilmu tauhid) adalah ilmu yang membuktikan kebenaran premis dengan bukti-bukti, memperindah iman dengan yakin. Seperti kedokteran untuk menjaga kesehatan jasmani, dan nahwu untuk memperbaiki lisan, dan lain-lain" (Ahmad Zaruq, Qawaid At-Tasawuf, qaidah ke 13, hal. 6).
Imam Al-Junaid (w. 297 H): "Tasawuf adalah mengamalkan setiap akhlak terpuji dan meninggalkan semua akhlak yang tercela". Definisi lain dari Al-Junaid: "Tasawuf semuanya akhlak. Jika anda lebih berakhlak mulia berarti anda lebih bertasawuf" (Mustafa Al-Madani, An-Nusrah An-Nabawiyyah, hal. 22).
Abul Hasan As-Syadzili (w. 656 H): "Tasawuf adalah melatih diri untuk beribadah dan membuatnya kembali kepada hokum-hukum Allah" (Hamid Soqr, Nurut Tahqiq, hal. 93).
Ibnu Ajibah: "Tasawuf adalah ilmu yang bisa dipergunakan untuk mengetahui bagaimana perilaku yang bisa mengantarkan kepada Allah, mensucikan batin dari berbagai keburukan, menghiasinya dengan berbagai bentuk kebaikan. Permulaannya ilmu, pertengahannya amal, dan akhirnya anugerah" (Ahmad bin Ajibah Al-Hasani, Mi'raj At-Tasyawuf ila Haqoiq At-Tashawwuf", hal. 4).
Secara umum tasawuf adalah kesucian hati dari kotoran-kotoran materi. Bangunannya ajeg dalam bentuk keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Karena itu seorang sufi adalah orang yang hatinya bersih menghadap Allah. Muamalahnya murni karena Allah. Maka ia mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt.
II. Derivasi istilah tasawuf:
1. "Dari as-shufah (الصوف) (kain bulu/wol). Karena seorang sufi bersama Allah seperti kain yang dilepas. Ia menyerahkan diri semata-mata kepada Allah" (Iqodzul Humam fi Syahril Hikam, Ibnu Ajibah, hal. 6). Atau kain bulu yang kasar, untuk menunjukkan kesederhanaan/zuhud.
2. "Dari as-shifah (الصِّفَة). Karena tasawuf secara umum adalah sifat-sifat yang mulia, dan meninggalkan sifat-sifat yang tercela" (Iqodzul Humam fi Syahril Hikam, Ibnu Ajibah, hal. 6).
3. "Dari as-shofa (الصفاء). Kata Abul Fatah Al-Basti:
تنازع الناس في الصوفي واختلفوا وظنه البعض مشتقا من الصوف
ولست أمنح هذا الاسم غير فتى صفا فصوفي حتى سمي الصوفي
(Orang berbeda pendapat tentang sufi. Sebagian menyangka berasal dari kata shuf. Aku tidak memberikan nama ini kecuali kepada orang, yang bersih (shofa) sehingga ia bisa disebut shufi (orang yang bersih)" (Iqodzul Humam fi Syahril Hikam, Ibnu Ajibah, hal. 6).
4. "Dari shuffah (الصُفَّة). Karena pengikutnya mengikuti jejak penghuni sufah (asrama para sahabat di Madinah). Seperti yang sifat-sifatnya disebutkan Allah Swt. "Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang yang berdoa kepada Tuhan mereka pagi dan petang yang hanya mengharapkan rido Allah" (Al-Kahfi: 28).
5. "Dari sofwah (الصفوة) atau pilihan, begitu kata Imam Qusyairi.
6. "Dari shof (الصَّف) atau barisan. Seolah-olah dengan hatinya mereka berada di shaf pertama karena selalu bersama Allah Swt. dan berlomba mengikuti berbagai ketaatan kepada Allah.
III. Perkembangan ilmu tasawuf:
Dr. Ahmad Alwasy:
"Banyak orang bertanya mengapa tasawuf tidak populer pada generasi awal Islam, dan hanya muncul pasca sahabat dan tabi'in? Jawabannya: karena pada abad pertama hijriyah belum ada kebutuhan terhadapnya. Di zaman ini masyarakatnya ahli taqwa, wara', zuhud dan ibadah. Tentu karena kedekatan masa hidup mereka dengan Rasulullah Saw. Mereka berlomba mengikuti jejak Rasulullah Saw. Makanya belum ada kebutuhan untuk mengajarkan ilmu ini sebagai sebuah disiplin.
Perbandingannya, generasi itu adalah bangsa Arab murni. Mereka memiliki keahlian berbahasa Arab yang fasih dari generasi ke generasi. Syair mereka mengalir, tanpa membutuhkan pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa Arab, nahwu, shorof dan balagoh. Kondisi seperti ini tidak membutuhkan pengajaran nahwu dan mempelajari balagah. Tetapi ilmu nahwu, kaidah-kaidah bahasa dan syair menjadi sangat penting ketika kesalahan-kesalahan bahasa sudah menggejala, terjadi pelemahan kemampuhan berekspresi, orang asing yang ingin mengetahui dan memahami bahasa Arab, atau ketika ilmu ini menjadi tuntutan di masyarakat, seperti halnya disiplin-disiplin lain yang terbentuk karena ada situasi dan kondisi yang menuntutnya lahir.
Para sahabat dan tabiin –walaupun mereka tidak menyebut dirinya sebagai sufi- hakikatnya mereka adalah para sufi. Apa yang dimaksud tasawuf selain seseorang hidup hanya untuk Tuhannya, zuhud, terus melakukan ubudiyyah, setiap saat menghadap Allah dengan ruh dan hatinya? Kesempurnaan dan keluhuran ruhiyah telah dicapai oleh para sahabat dan tabi'in. Mereka tidak hanya cukup dengan berikrar, mengakui akidah dan keimanan kepada Allah, dan melaksanakan berbagai kewajiban dalam Islam; tetapi pengakuan itu mereka barengi dengan penghayatan yang mendalam. Ibadah-ibadah wajib mereka tambah dengan amal-amal sunnah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Mereka menjauhkan diri dari berbagai amal yang dimakruhkan, apalagi yang diharamkan. Sehingga mata batin mereka bersinar terang, sumber-sumber kearifan terpancar dari hati mereka, dan rahasia-rahasia rabbani menjadi aura yang memancar dalam jasad mereka.
Ciri-ciri seperti ini terjadi juga dengan para tabi'in dan tabi'it tabi'in. Tiga generasi ini adalah zaman keemasan dalam sejarah Islam. Rasulullah Saw. telah bersaksi: "Sebaik-baiknya manusia adalah zamanku ini, kemudian generasi seteleh mereka, kemudian generasi setelah mereka" (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
Ketika zaman terus bergulir, berbagai ras dan suku berbondong-bondong masuk Islam, ilmu-ilmu semakin meluas, cabang dan keahlian baru terus tumbuh, setiap kelompok menuliskan ilmu yang dikuasainya; maka lahirkan ilmu nahwu, ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu hadits, ushuluddin, tafsir, mantiq, mustolahul hadits, ilmu ushul fikih, faraid dan lain-lain.
Setelah masa kodifikasi ilmu, kehidupan ruhiyah umat secara perlahan mengalami degradasi. Orang-orang mulai lupa dengan pentingnya beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati dan kesungguhan. Inilah yang membuat para zahid berpikir untuk mengkodifikasikan ilmu tasawuf, menujukkan kemuliaan dan posisinya dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain. Hal itu tidak dimaksudkan untuk menyaingi kelompok-kelompok lain –seperti yang salah dipahami oleh orientalis- tetapi untuk menutupi kekurangan, dan melengkapi kebutuhan agama dalam berbagai sisi kehidupan, dalam rangka menyiapkan umat mencapai kebaikan dan takwa" (Dr. Ahmad Alwasy, At-Tasawwuf min Wijhatit Tarikhiyyah, dalam Al-Muslim, Majalah Al-Asyirah Al-Muhammadiyyah, Muharram, 1376 H).
Sayyid Muhammad Shodiq Al-Gomari:
"Orang yang pertama mendirikan tarekat. Ketahuilah tarekat dibangun oleh wahyu yang turun dari langit sebagai keseluruhan ajaran yang telah membangun agama Islam. Karena tidak ada keraguan, tarekat adalah salah satu pilar agama yang tiga, yang telah dijelaskan oleh Nabi satu demi satu sebagai agama, dalam sabdanya: "Itulah Jibril yang datang kepada kalian, mengajarkan agama kalian" (HR Muslim dalam Kitab Al-Iman dari Umar bin Khatab), yaitu: Islam, iman dan ihsan.
Karena Islam adalah ketaatan dan ibadah. Iman adalah cahaya dan aqidah. Dan ihsan adalah maqom muraqobah dan musyahadah: "Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, jika tidak melihatnya sesungguhnya Dia melihat engkau".
Berdasarkan hadits tadi, tarekat merupakan bagian dari rukun yang tiga. Barang siapa yang menyia-nyiakan maqam ihsan yaitu tarekat, maka agamanya minus, karena telah meninggalkan salah satu rukun agama. Karena target utama dan makna tarekat adalah maqam ihsan. Yaitu maqom yang bisa dicapai setelah memiliki Islam dan iman yang benar" (Muhammad Sodiq Al-Ghomari, Al-Intishor li Thoriqis Sufiyyah, hal. 6).
Ibnu Khaldun:
"Ilmu tasawuf merupakan ilmu yang relatif baru dalam agama ini. Aselinya tradisi sufistik ini ada dalam kebiasaan generasi salaf, para pembesar sahabat dan tabi'in, juga generasi setelah mereka yang mengampu kebenaran dan hidayah. Aslinya yang mereka lakukan itu adalah konsentrasi penuh untuk beribadah, memutuskan diri dari selain Allah, berpaling dari kemewahan hidup dunia, zuhud dari kecenderungan masyarakat umum yaitu hidup dengan kemewahan, harta dan popularitas, mengasingkan diri dari makhluk, dan khulwah untuk beribadah. Kebiasaan seperti itu umum di kalangan sahabat dan generasi salaf. Tetapi ketika kecenderungan masyarakat terhadap keduniaan semakin menggejala di abad kedua dan setelahnya, orang-orang yang memfokuskan diri untuk beribadah menyebut dirinya sebagai sufi" (Muqodimah Ibnu Khaldun, ilmu tasawuf, hal. 329).
Muhammad bin Shodiq Al-Ghamari:
"Perspektif Ibnu Khaldun tentang sejarah kemunculan tasawuf, dikuatkan oleh Al-Kindi –hidup di abad ke 4 H.- ketika dalam bukunya "Wulatu Misr" menceritakan tentang berbagai peristiwa tahun 200 H. Bahwa di Alexandria muncul satu kelompok yang disebut dengan sufiyyah, mereka melakukan amar makruf dan nahyil munkar. Begitu pula yang disebutkan Al-Mas'udi dalam "Murawwijud Dzahab", ketika menceritakan Yahya bin Ukhtsum. Beliau bercerita: suatu waktu Al-Makmun sedang duduk, ketika itu Ali bin Sholih –seorang ajudan kekhalifahan berkata: wahai Amirul Mukminin! Ada orang yang berdiri di depan pintu, memakai baju putih yang kasar, meminta izin masuk untuk berdialog. Ketika itu aku tahu, dia adalah sebagian orang sufi. Kedua hikayat itu membenarkan pendapat Ibnu Khaldun tentang sejarah perkembangan tasawuf. Dalam Kasyfud Dzunun diceritakan bahwa orang yang pertama disebut sufi adalah Abu Hasyim As-Sufi (w. 150 H.). (Al-Ghomari, Al-Intishor li Thoriq As-Sufiyyah, hal. 17-18).
Imam Al-Qusyairi:
"Ketahuilah, sesungguhnya umat Islam sepeninggal Rasulullah Saw. tidak menyebut dirinya di zaman mereka dengan nama selain sebagai sahabat Rasulullah Saw. Karena tidak yang nama yang lebih baik selain itu. Mereka dijuluki sahabat. Merekapun bertingkat-tingkat. Elit-elit masyarakat (khwas) yang paling concern dengan urusan agama, disebut zuhad atau ubbad. Kemudian muncullah kebid'ahan. Setiap kelompok mengklaim lebih baik dari kelompok lain, dan masing-masing kelompok mengaku memiliki banyak zahid. Maka kelompok elit Ahlus Sunnah yang menjaga hubungan mereka dengan Allah Swt., dan memperhatikan agar dalam hati mereka tidak terjadi goflah, menyebut dirinya sebagai tasawuf. Nama ini populer di kalangan para elit itu sebelum tahun 200 H." (Haji Khalifah, Kasyfud Dzunun, vol.1, hal. 414).
IV. Urgensi Tasawuf:
Seluruh taklif syar'i yang dibebankan kepada manusia hakikatnya ada dua bagian. Pertama, hukum-hukum yang berhubungan dengan amal-amal dzohir. Kedua, hukum-hukum yang berhubungan dengan amal batin. Dengan kata lain: pertama hukum yang berhubungan dengan badan manusia, kedua amal-amal yang berhubungan dengan hatinya.
Amal-amal yang bersifat fisik ada dua jenis: perintah dan larangan. Perintah-perintah Allah seperti sholat, zakat, haji dan lain-lain. Dan larangan seperti membunuh, berzina, mencuri, meminum khamar dan lain-lain.
Amal-amal yang berhubungan dengan hati juga terdiri dari perintah dan larangan. Perintah seperti: iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan lain-lain, ikhlas, rido, jujur, khusyu, tawakal dll. Larangan seperti: kekufuran, kemunafikan, kesombongan, membanggakan diri, riya, angkuh, iri dan dengki dan lain-lain.
Bagian kedua yang berhubungan dengan hati lebih penting dari yang pertama di hadapan Allah, walaupun semuanya memang penting. Karena batin adalah dasar dan sumber dari segala yang dzohir. Amal-amal hati akan melandasi amal-amal yang dzohir. Sehingga jika batin rusak akan membuat kesia-siaan seluruh amal yang dzohir. Allah berfirman:
"Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Al-Kahfi: 110).
Sebab itu Rasulullah Saw. mengarahkan agar para sahabat concern memperbaiki hati. Beliau menjelaskan bahwa kebaikan manusia tergantung pada kebaikan hati. Kualitas hidup adalah sejauh mana ia terbebas dari berbagai penyakit batin. Beliau bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya dalam hati manusia ada segumpal daging (mudgoh). Jika ia baik, akan baik pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, akan rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, itulah hati" (Soheh Bukhari dalam Kitab Al-Iman, dan Soheh Muslim dalam Kitab Al-Musaqot, dari Nu'man bin Basyir).
Rasul mengajarkan bahwa penilaian Allah terfokus pada hati hamba-hamba-Nya: "Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad atau penampilan kalian. Tetapi Allah melihat hati kalian" (Soheh Muslim dalam Kitab Al-Birru was Silah, dari Abu Hurairah).
Jika kebaikan manusia digantungkan pada kebaikan hati yang menjadi sumber dari seluruh amal dzohirnya, maka ia harus memperbaiki dan membersihkannya dari segala sifat tercela yang dilarang Allah Swt. dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji yang telah diperintahkan Allah Swt. Ketika itu hatinya akan selamat dan ia akan termasuk orang-orang yang selamat "Pada suatu hari, dimana harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang baik" (As-Syuara: 88-89).
Jalaluddin As-Suyuti: "Ilmu yang berhubungan dengan hati dan mengetahui berbagai penyakitnya, seperti hasad, ujub, riya dan sebagainya, menurut Al-Ghazali adalah fardu ain" (Al-Asybah wan Nadzoir, hal. 504).
Membersihkan dan mensucikan hati karena itu merupakan fardu ain yang paling penting, dan perintah Allah yang paling wajib. Dalilnya ada dalam Kitab, Sunnah dan pendapat para ulama:
1. Dalam Al-Quran:
•
"Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi.." (Al-A'raf: 33).
•
"Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi" (Al-An'am: 151).
Perbuatan-perbuatan keji yang tersembunyi seperti yang ditafsirkan oleh para ulama dalah: iri, dengki, riya, kemunafikan dan lain-lain.
2. Dalam Sunnah:
1. Setiap hadits yang menerangkan larangan untuk iri, dengki, sombong, riya..juga hadits-hadits yang memerintahkan untuk menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan perlakuan yang baik kepada orang lain. Termasuk dalam klasifikasi ini sabda Nabi:
(لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر)
"Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya ada seberat dzarah dari ketakaburan" (HR Muslim dalam Kitab Iman, dari Ibnu Mas'ud).
2. Hadits: "Iman lebih dari 70 bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat la ilaha illallah. Yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan malu adalah sebagian dari iman" (HR. Bukhari dan Muslim dalam Kitab Al-Iman, dari Abu Hurairah).
Kesempurnaan iman karena itu digantungkan pada sejauh mana bagian-bagian iman ini dilengkapi. Semakin lengkap, semakin tinggi pula kualitas imannya. Semakin berkurang makin minus pula kualitas imannya. Dan penyakit-penyakit batin dapat menghancurkan amal manusia, betapapun amal-amal itu banyak.
3. Pendapat para ulama:
Menurut para ulama, penyakit-penyakit hati termasuk dosa-dosa besar yang masing-masing harus ditaubati.
Al-Bajuri: "Perintahlah pada kebaikan dan jauhilah namimah, gibah dan segala bentuk keburukan, seperti ujub, takabur, dengki, dan penyakit hasud..". Segala bentuk keburukan, artinya keburukan menurut syariat. Di sini penulis (Al-Bajuri) khusus memperhatikan penyakit-penyakit jiwa. Karena orang yang membiarkan keburukan itu melekat dalam dirinya, meskipun ia concern memperbaiki perilaku dzohir, perumpamaannya adalah seperti orang yang memakai pakaian yang necis tetapi badannya penuh dengan kotoran. Seperti orang yang suka beribadah tetapi ujub, ia melihat ibadah yang telah dilakukannya dengan penuh kekaguman. Sebagaimana ahli ibadah haram ujub dengan ibadahnya, dan seorang alim haram ujub dengan ilmunya, demikian riya hukumnya haram" (Al-Bajuri, Syarah Al-Jauharah, hal. 120-122).
Ibnu Abidin: "Sesungguhnya pengetahuan tentang ikhlas, ujub, hasad dan riya adalah fardu ain. Demikian pula penyakit-penyakit kejiwaan lain seperti takabur, pelit, dengki, menipu, marah, permusuhan, tamak, merendahkan orang lain, khianat, menolak kebenaran dll., seperti yang dijelaskan Imam Ghazali dalam rub'ul muhlikat (seperempat pembahasan kitab ihya tentang masalah-masalah yang menghancurkan diri manusia). Kata Al-Ghazali: tidak ada orang yang terbebas dari potensi terjangkit penyakit kejiwaan seperti itu. Karena itu orang harus mempelajari sesuatu yang ia perlukan, yang potensial menjangkitinya.
Menghilangkan penyakit-penyakit itu adalah fardu ain. Dan itu tidak mungkin kecuali dengan mengetahui hakikatnya, penyebabnya, ciri-cirinya, dan bagaimana mengobaatinya. Karena orang yang tidak mengetahui keburukan, ia bisa terjerumus ke dalamnya" (Hasyiah Ibnu Abidin, vol. 1, hal. 31).
Tasawuf tidak lain ilmu yang mengobati penyakit-penyakit hati, mensucikan dan membersihkannya dari berbagai sifat yang tercela.
Fungsi dan pentingnya tasawuf menurut Ibnu Zakwan: "Ilmu yang bisa mensucikan batin dari berbagai kotoran-kotoran hati".
Al-Manjuri: "Tasawuf adalah ilmu yang bisa dipergunakan untuk mengetahui bagaimana cara mensucikan batin dari berbagai kotoran-kotoran hati. Artinya dari berbagai kelemahan dan sifat-sifatnya yang tercela..Karena ilmu tasawuf melihat aib-aib diri, dan cara-cara mengobatinya. Dengan ilmu tasawuf orang akan bisa melewati rintangan kejiwaan dan membebaskan diri dari akhlak dan sifat-sifat yang tercela. Sehingga bisa mengosongkan hati dari selain Allah, dan menghiasinya dengan dzikir kepada Allah Swt." (Mustofa Ismail Al-Madani, Nusrotun Nubuwwah, hal. 26).
Menghiasi jiwa dengan sifat-sifat kesempurnaan, seperti: taubat, taqwa, istiqomah, kejujuran (sidq), ikhlas, zuhud, wara', tawakal, rido, menyerahkan diri kepada Allah (taslim), adab, cinta, dzikir dan muraqobah; orang-orang sufi memiliki bagian yang cukup besar dalam hal ini, baik ilmu maupun amal.
Karena pentingnya tasawuf terhadap kebaikan lahir dan batin seorang Muslim, Imam Ghazali mengatakan: "Masuk menjadi seorang sufi adalah fardu ain. Karena tidak ada orang yang bebas dari penyakit batin kecuali para Nabi, semoga Allah memberikan sholawat dan salam kepada mereka" (Al-Fasi, An-Nusroh An-Nabawiyyah, hal. 26). Tentu yang dimaksud dengan tasawuf menurut Imam Ghazali adalah yang memiliki kriteria yang ia maksudkan.
Kata Fudeil bin Iyad: "Engkau harus konsisten di jalan kebenaran. Jangan merasa terasing karena sedikit orang yang berjalan di sini. Jangan sesekali engkau berpijak di jalan kebatilan, dan jangan terperdaya karena jumlah mereka yang menemui kehancuran itu banyak jumlahnya. Jika engkau merasa sepi karena kesendirian engkau, tengoklah orang yang sudah mendahului engkau dan kejarlan mereka. Tutuplah mata dari orang-orang selain mereka, karena mereka tidak akan membuat engkau berkecukupan di hadapan Allah. Jika mereka berteriak memanggil engkau jangan menengok kepada mereka. Karena jika engkau menengok, mereka akan memalingkan engkau dari jalan kebenaran itu, dan mereka akan menistakan engkau". (Ibnul Qoyyim, Manazilus Salikin, tahqiq: Muhammad Hamid Al-Fiqi, vol. 1, hal. 22, Beirut: Darul Kitab Al-Arabi, cet. 2, 1983).
V. KESAKSIAN PARA ULAMA TENTANG TASAWUF:
1. Imam Malik:
الإمام مالك: من تفقه ولم يتصوّف فقد تفسق، ومن تصوّف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن جمع بينهما فقد تحقق.
Imam Malik: "Siapa yang menggali fiqih (tafaquh) tapi tidak bertasawuf, ia bisa menjadi fasik. Siapa yang bertasawuf tapi tidak tafaquh, ia bisa menjadi zindiq. Siapa yang menggabungkan antara keduanya, ia telah membuktikan dirinya sebagai Muslim sejati (tahaqqoq)". [Ali bin Sultan Muhammad Al-Qori (w. 1014 H), Mirqotul Mafatih Syarh Misykatil Masobih, tahqiq: Jamal Aitani, vol. 1, hal. 478, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, cet. 1, 2001]
أبو طالب المكي: هما (الفقه والتصوف) علمان أصليان لا يستغني أحدهما عن الآخر، بمنزلة الإسلام والإيمان مرتبط كل منهما بالآخر، كالجسم والقلب لا ينفك أحد عن صاحبه.
Abu Tolib Al-Maki: "Fikih dan tasawuf adalah dua ilmu yang fundamental, satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Seperti Islam dan iman terkait satu sama lain. Seperti jasad dan hati tidak bisa dipisahkan dari yang lain". [Ali Al-Qori, Mirqotul Mafatih, vol. 1, hal. 478]
2. Imam Syafi'i:
قال الشافعي رضي الله عنه: صحبت الصوفية فما انتفعت منهم إلا بكلمتين، سمعتهم يقولون: الوقت سيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل
Imam Syafi'i: "Saya menyertai orang sufi, tidak mengambil pelajaran dari mereka kecuali dua kalimat. Saya mendengar mereka berkata: waktu adalah pedang. Jika tidak engkau pergunakan untuk memotong, ia akan memotong engkau. Jiwa engkau, jika engkau tidak membuatnya sibuk dengan kebenaran, ia akan menyibukkan engkau dengan kebatilan". (Ibnul Qoyim, Madarijus Salikin, vol. 3, hal. 129).
3. Imam Ahmad:
إبراهيم بن عبد الله القلانسي قال قيل لأحمد بن حنبل: إن الصوفية يجلسون في المساجد بلا علم على سبيل التوكل، قال: العلم أجلسهم. فقيل: ليس مرادهم من الدنيا إلا كسرة خبز وخرقة، فقال: لا أعلم على وجه الأرض أقواما أفضل منهم.
Ibrahim bin Abdullah Al-Qolansi menyebut, ada orang berkata kepada Ahmad bin Hambal: orang-orang sufi mereka duduk di mesjid tanpa ilmu mereka menyebut sedang bertawakal. Kata Ibn Hambal: ilmulah yang telah membuat mereka duduk di mesjid. Dikatakan: harapan mereka dari dunia hanyalah sepotong roti dan sehelai baju. Kata Ibnu Hambal: di muka bumi ini saya tidak tahu ada orang-orang yang lebih baik dari mereka". (Muhammad bin Muflih Al-Maqdisi, Al-Adab As-Syar'iyyah wal Minah Al-Mar'iyyah, tahqiq: Syuaib Al-Arnauth/Umar Al-Qiyam, vol. 2, hal. 308, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 2, 1996 H).
4. Al-Harits Al-Muhasibi:
"Telah dijelaskan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 70 sekte lebih, satu diantaranya adalah kelompok yang selamat, dan Allah lebih tahu sesisanya. Saya masih terus menginfakkah umurku untuk mempelajari perbedaan umat, mencari manhaj yang terang, jalan yang paling lurus, mencari ilmu dan amal, mengambil petunjuk para ulama untuk menerangi jalan menuju akhirat, memahami banyak kalamullah dengan penafsiran para fuqoha, merenungkan kondisi umat, mengkaji berbagai madzhab dengan pendapat-pendapat yang dimilikinya. Saya pun memberikan komentar sebisa mungkin. Saya melihat perbedaan mereka seperti bahtera yang sangat dalam. Banyak orang yang tenggelam di dalamnya, hanya sedikit saja orang-orang yang selamat.
Saya melihat setiap kelompok menyangka bahwa keselamatan hanya milik orang-orang yang mengikutinya, dan kehancuran akan terjadi dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka.
Kemudian saya melihat berbagai macam manusia. Di antara mereka ada orang yang alim menyangkut persoalan akhirat. Menemui orang seperti ini sulit, dan keberadaannya sangat berarti.
Ada orang yang jahil. Jauh darinya adalah keberuntungan.
Ada orang yang menyerupai ulama, tetapi sangat mencintai dunia dan menjadikannya sebagai prioritas utama.
Ada orang berilmu agama. Tetapi dengan ilmunya ia mencari popularitas dan kehormatan. Dia mendapatkan keberuntungan dunia dari agamanya.
Ada orang yang berilmu. Tetapi ia tidak begitu paham dengan ilmu yang dibawanya.
Ada orang yang menyerupai ahli ibadah, mencari peluang-peluang kebaikan, tidak memiliki kekayaan juga tidak berilmu.
Ada orang yang tergolong cerdik cendekia, tapi kehilangan wara dan takwa.
Ada orang yang berdiri di gerbang hawa nafsu, dekat dengan dunia, dan mencari kekuasaan.
Di antara mereka ada manusia dari golongan syeitan. Mereka memalingkan manusia dari negeri akhirat. Berebut dunia, mengumpulkan dan mencari sebanyak-banyaknya dunia. Di bidang dunia mereka termasuk orang yang hidup, tetapi menyangkut akhirat mereka tergolong mati. Bahkan kebaikan dianggapnya kemunkaran.
Saya pun mengevaluasi diri, termasuk kelompok manakah diriku ini. Inilah yang membuat saya mencari petunjuk dari orang-orang lurus untuk mendapatkan taufik dan hidayah. Menggali ilmu, berpikir serius, dan lama merenung. Dari Kitab Allah, Sunah Nabi Saw. dan ijma umat diperoleh kesimpulan, bahwa mengikuti hawa nafsu akan membuat mata menjadi buta hingga tidak memperoleh petunjuk, sesat dari kebenaran, dan lama berada dalam keadaan buta.
Maka saya memulai untuk menggugurkan hawa nafsu dari hatiku. Mencermati perbedaan umat untuk mencari tahu yang manakah golongan yang selamat itu. Sambil berhati-hati dari hawa nafsu yang menghancurkan dan golongan yang celaka, berhati-hati pula untuk memberikan vonis sebelum lengkap penjelasan tentangnya, dan aku mencari keselamatan.
Kemudian saya dapatkan bahwa umat sepakat berdasarkan ajaran Kitab Allah yang diturunkan kepada NabiNya, jalan menuju keselamatan itu adalah konsisten dalam ketaqwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban syariah, berhati-hati (wara) baik menyangkut yang halal, haram dan seluruh hukum Allah Swt., ikhlas dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan mengikuti jejak Rasulullah Saw.
Saya pun menggali ilmu pengetahuan tentang berbagai kewajiban dan sunnah dari para ulama. Saya melihat ada sesuatu yang disepakati, ada pula yang diperdebatkan. Tetapi semuanya sepakat bahwa ilmu tentang wajib dan sunnah ada pada para ulama yang arif kepada Allah dan perintahNya, mendapatkan pemahaman dari Allah, mengamalkan segala hal yang bisa mendatangkan keridoan Allah, berhati-hati menjaga diri (wara) agar tidak terjebak ke dalam perkara yang diharamkan, mengikuti jejak Rasulullah Saw., mendahulukan akhirat dari pada dunia. Mereka itulah orang-orang yang komitmen dengan perintah Allah dan sunnah para utusan.
Saya mencari kelompok ini di tengah-tengah umat, dengan sifat-sifat seperti disebutkan tadi dalam hidup mereka, untuk berguru dan mengambil ilmu mereka. Saya dapatkan mereka adalah golongan yang sedikit saja dari kelompok minoritas. Saya juga melihat ilmu mereka semakin surut, seperti yang disebutkan Rasulullah Saw.: "Islam pertama kali dipandang asing, dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing". Mereka itulah orang-orang konsisten dengan agama meraka.
Saya mulai merasa bahwa kehilangan para wali yang bertaqwa adalah musibat yang paling besar. Saya merasakan ketakutan yang sangat jika kematian tiba-tiba datang menjemputku dalam usiaku yang masih bingung dengan perselisihan umat. Maka segera mencari seorang alim yang belum aku ketahui, dengan penuh kehati-hatian dan terus mencari tahu tentang keberadaan mereka. Kemudian seolah-olah Allah Saw. yang menyayangi hamba-hambaNya menceritakan kepadaku tentang orang-orang yang saya temui. Di tengah-tengah mereka saya mendapakan tanda-tanda ketakwaan, ciri-ciri wara' dan mendahulukan akhirat ketimbang dunia.
Saya dengar nasihat dan wejangan meraka sesuai dengan yang dilakukan oleh para ulama yang mendapatkan petunjuk. Mereka memberikan nasihat kepada umat. Tidak pernah berharap ada orang yang melakukan maksiat kepada Allah. Merekapun tidak pernah putus asa dengan rahmatNya. Selalu rido dengan bersabar atas segala bentuk musibat dan penderitaan. Rela dengan takdir. Syukur atas nikmat. Menjadikan Allah mencintai hamba-hambaNya dengan cara mengingatkan manusia akan nikmat dan kebaikan Allah. Mendorong manusia untuk kembali kepada Allah. Mereka adalah para ulama yang mengenal betul keagungan Allah. Para ulama yang mengagungkan kebesaran Allah. Ulama yang mengerti Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Mereka orang-orang yang mengerti agamanya. Ulama dengan menerima apa yang dicintai dan yang dibenci Allah. Menjaga diri dari kedib'ahan dan hawa nafsu. Menjauhi sikap ekstrim. Tidak suka melakukan debat kusir. Berhati-hati agar tidak melakukan gibah dan kedoliman. Melawan hawa nafsunya. Melakukan muhasabah terhadap dirinya. Bisa mengontrol anggota badannya. Berhati-hati menyangkut makan, pakaian dan segala kondisinya. Menjauhi syubhat, meninggalkan syahwat, mencukupkan diri dengan sesuap makan, mencukupkan diri dengan sedikit barang mubah, zuhud dalam harta yang halal, khawatir dengan apa yang akan terjadi dalam hisab, takut dengan apa yang terjadi setelah kebangkitan. Ketika setiap orang sibuk menguruskan urusan dirinya sendiri. Mengetahui benar dengan urusan akhirat, tentang hari kiamat, pahala yang besar dan siksa yang sangat pedih. Itu semua telah membuat mereka selalu sedih, tetapi juga selalu bersemangat untuk beramal. Sehingga mereka lupa dengan kebahagiaan dan kenikmatan dunia.
Mereka telah menyebutkan sifat-sifat tentang adab beragama. Mereka telah memberikan ajaran tentang wara' yang membuat hatiku menjadi sempit. Ketika itu saya tahu bahwa adab beragama dan wara yang benar merupakan samudera yang sulit untuk orang sepertiku selamat tidak tenggalam di dalamnya, dan orang-orang sepertiku mampu melaksanakannya. Semakin jelas bagiku keutamaan mereka. Jelas bagiku kebaikan mereka. Saya menjadi yakin, mereka adalah orang-orang yang bekerja di jalan akhirat, mengikuti jejak para rasul. Mereka adalah lentera yang bisa dijadikan penerang, dan petunjuk bagi orang yang mengikutinya.
Saya menyukai cara hidup seperti itu. Mengambil manfaat dari mereka. Mengikuti cara mereka kembali kepada Allah. Mencintai ketaatan mereka. Tidak berpaling dari mereka, dan tidak mendahulukan orang lain ketimbang mereka. Maka Allah pun membukakan pintu ilmuNya kepadaku. Sehingga hujjahNya menjadi jelas, dan keutamaannya menerangiku. Saya berharap keselamatan akan didapat oleh orang yang mendekat atau mengikutinya. Saya menjadi yakin, orang yang melakukan itu akan mendapatkan keselamatan.
Sebaliknya saya melihat penyimpangan terjadi dengan orang yang berbeda haluan dengan mereka. Saya melihat noda-noda hitam semakin bertumpuk di hati orang yang menjaili atau menentangnya. Saya melihat hujjah besar bagi orang yang memahaminya. Sehingga mengikuti jejak mereka dan mengamalkan ajaran-ajarannya menjadi wajib bagiku. Hal itu diyakini dalam relung hatiku. Saya jadikan itu semua sebagai fondasi agamaku. Amal perbuatanku dibangun di atasnya. Atas dasar itu saya mengevaluasi kondisi diriku.
Saya pun berdoa kepada Allah agar Dia berkenan menganugerahkan syukur atas nikmat yang telah dianugerahkanNya kepadaku. Agar Dia memberikan kekuatan kepadaku untuk mengamalkan apa yang telah diajarkannya kepadaku. Meskipun saya tahu, betapa lemah diriku, dan betapa aku selamanya tidak bisa melakukan syukur yang memadai atas nikmat-nikmatNya. (Al-Harits Al-Muhasibi, Al-Wasoya, tahqiq: Abdul Qodir Ahmad Ato, hal. 59-64, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, cet. 1, 1986).
5. Abdul Karim Al-Qusyairi:
"Allah telah menjadikan kelompok ini sebagai kekasih pilihanNya, melebihkan mereka dari seluruh hambaNya –setelah para rasul dan nabi AS, menjadikan hati mereka sebagai sumber rahasia Allah Swt, Allah khusus memperlihatkan kepada mereka cahaya-cahayaNya. Mereka menjadi sebab datangnya pertolongan kepada makhluk. Secara umum kondisi mereka bersama Allah dalam menjalankan kebenaran. Allah membersihkan mereka dari kotoran-kotoran kemanusiaan. Mengangkat mereka sehingga bisa menyaksikan manifestasi hakikat Allah Swt. di alam semesta. Allah memberikan taufik sehingga mereka bisa melaksanakan adab-adab ibadah, dan memperlihatkan jalur hukum-hukum Allah. Maka mereka menegakkan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada mereka, dan membenarkan bahwa seluruh yang terjadi dengan diri mereka kembali kepada kehendak dan kuasa Allah. Merekapun kemudian kembali kepada Allah Swt. dengan kesadaran yang tulus bahwa mereka membutuhkan Dia, dengan hati yang rengkuh. Mereka tidak berbicara tentang amal-amal yang mereka lakukan, atau kondisi batin mereka yang jernih. Mereka tahu bahwa Allah Swt. melakukan apa yang Dia inginkan, dan memilih hamba-hamba yang Dia kehendaki. Tidak didikte oleh makhluk, dan makhluk tidak punya hak untuk menuntut Dia. Pahala yang diberikan-Nya adalah semata-mata kemurahan-Nya. Adzab yang diberikan-Nya adalah eksekusi pengadilan yang adil. Dan perintah-Nya adalah keputusan yang final". (Abdul Karim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, tahqiq: Khalil Al-Mansur, hal. 8, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiah, 2001.
6. Imam Ghazali:
"Saya tahu dengan yakin bahwa kaum sufi adalah orang-orang yang khusus berjalan di jalan Allah dan perilaku mereka sangat baik. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang paling benar. Akhlak mereka paling mulia. Bahkan andai berkumpul seluruh kaum cendekia, orang-orang bijak dan para ulama yang mengerti betul tentang rahasia-rahasia hukum syariat, untuk merubah perilaku dan akhlak mereka dan mencari alternative yang lebih baik untuk mereka, pasti mereka tidak bisa melakukan itu. Karena seluruh gerak dan diam mereka, baik lahir maupun batin, diambil dari cahaya kenabian. Dan selain cahaya kenabian tidak ada cahaya yang bisa dijadikan panutan". (Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Munqidz minad Dzolal, tahqiq: Muhammad Muhammad Jabir, hal. 49-50, Beirut: Al-Maktabah Al-Tsaqofiyah, tt.)
7. Abdul Qohir Al-Bagdadi:
"Kelompok keenam adalah para zuhad dan sufi. Mereka adalah orang-orang yang melihat tetapi penglihatannya "pendek" [tidak panjangan angan-angan]. Mendapat cobaan dan mengambil pelajaran dari cobaan itu. Rela dengan takdir. Menerima pemberian Allah meskipun sedikit. Mereka tahu bahwa pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggung jawaban, baik menyangkut kebaikan atau keburukan. Dan amal-amal mereka akan dihisab, meskipun untuk ukuran amal yang paling kecil. Karenanya sebaik-baiknya mereka menyiapkan bekal untuk hidup setelah kebangkitan. Pembicaraan mereka berbentuk ungkapan yang tegas atau isyarat, seperti halnya ahlul hadits, dan pembicaraan mereka tidak sia-sia. Mereka tidak melakukan kebaikan dengan riya, tidak pula meninggalkan kebaikan karena malu. Agama mereka adalah tauhid dan menegasikan adanya keserupaan antara Allah dengan makhluk-makhlukNya (tasybih). Madzhab mereka adalah menyerahkan (tafwidz) kepada Allah, tawakal dan menyerahkan diri kepada Allah. Mereka qonaah dengan rezeki yang diberikan Allah, dan menolak untuk berkeluh kesah kepadaNya: "Itulah karunia Allah, diberikan kepada orang yang dikehendakiNya. Sesungguhunya Allah Maha Pemurah lagi Maha Agung". (Abdul Qohir Al-Bagdadi (w. 429 H), Al-Farqu Bainal Firaq wa Bayanil Firqoh An-Najihah, hal. 302-303, hal. Beirut: Darul Afaq Al-Jadidah, cet. 2, 1977)
8. Ibnu Taimiyyah:
"Adapun orang-orang yang berjalan menuju Allah dengan istiqomah, seperti mayoritas masyayikh salaf, seperti Al-Fudail bin Iyad, Ibrahim bin Adham, Abu Sulaiman Ad-Darani, Ma'ruf Al-Kurkhi, Sirri As-Saqthi, Al-Junaid bin Muhammad, dan lain-lain dari generasi terdahulu. Dan seperti Syeikh Abdul Qodir [Jaelani), Syeikh Hamad, Syeikh Abul Bayan dan lain-lain dari generasi mutaakhirin. Mereka tidak memperbolehkan seorang sufi –walaupun dia bisa terbang atau berjalan di atas air- untuk keluar dari ketentuan perintah dan larangan Allah. Dia harus melakukan perkara yang diperintahkan dan meninggalkan perkara yang dilarang, sampai dia meninggal. Inilah kebenaran yang ditunjukkan oleh Al-Quran, sunnah dan ijma generasi salaf". (Ibnu Taimiyyah, Majmu Fatawa, tahqiq: Abdurrahman bin Muhammad An-Najdi, vol. 10, hal. 516-517, Maktabah Ibnu Taimiyyah, cet. 2, tt.)
BAB II:
TRADISI SUFISTIK
Mukadimah:
1. Kebersamaan dengan guru:
2. Al-Warits Al-Muhammadi:
3. Baiat:
4. Ilmu
5. Mujahadatun nafsi
6. Dzikir
7. Mudzakarah
8. Khulwah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan untuk memberikan komentar